Cari

inspiring waddah

menulislah agar engkau abadi

ALEETA ABQARIAH MUHLIS

NEW

ALEETA ABQARIAH MUHLIS adalah nama yang kami berikan kepada putri pertama kami yang lahir secara Caesar pada tanggal 13 mei pukul 20.30 di rumah sakit bantaeng. Berbait – bait do’a teriring semoga kelak engkau menjadi wanita mulia dan memuliakan cerdas dan mencerdaskan seperti namamu nak, dan semoga disetiap langkahmu selalu teriring keikhlasan seperti arti nama ayahmu yang tersemat di belakang namamu. Allah SWT telah menjadikan segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan termasuk didalamnya adalah harta dan anak – anak, dalam alqur’an surah al imran Allah SWT berfirman.:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَ
Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali Imran:14].
Maka kehadiranmu adalah perhiasan bagi kami sekaligus menjadi ujian keimanan, dimana kau nak adalah amanah yang allah titipkan kepada kami, kehadiranmu adalah tanggungjawab yang harus kami jaga, terlebih engkau adalah seorang perempuan, dibenak ibu telah terderet begitu banyak asa untukmu, segala kebaikan semoga terpatri atasmu, semoga engkau senantiasa menjadi cahaya bagi orang yang ada disekitarmu, semoga kehadiranmu adalah kebahagiaan bagi sesamamu,…….
Selamat datang anakku, ALEETA, putrid kebanggaan ibu dan ayah

Iklan

menantimu

bayi

terderet waktu hingga kini

begitu cepat, serasa sekelebat berlalu

hari itu telah tiba , meski aku masih gamang karna kau belum nampak

9 bulan 10 hari , mengeramimu dalam sibukku

tak pandai hatiku bersandiwara

menahan gemuruh hati menantimu

menyambut tawa dan tangismu

kau anakku, ibu telah merindukanmu.

“MISS WORLD , RITUALISME MENELANJANGI KAUM PEREMPUAN”

index
Menjadi cantik adalah dambaan setiap perempuan, baik secara sadar maupun tidak sadar banyak perempuan berusaha mencari pengakuan untuk itu. Untuk mendapatkan pengakuan “cantik” ini banyak wanita yang kemudian menyiksa diri. Contohnya, seperti wanita pada zaman Dinasty Ming yang harus rela dipatahkan jari-jari kakinya demi mendapatkan kaki berukuran kecil. Beda lagi dengan penduduk Mongolia dan Tibet yang menganggap wanita cantik adalah yang berleher jenjang. Semakin panjang leher semakin cantiklah dia. Oleh karena itu, wanita di sana rela mengisi lehernya dengan banyak kalung timah yang mengikat erat di leher mereka sejak kecil. Semakin bertambah usia, jumlah kalung di leher mereka pun semakin bertambah sehingga membuat leher seolah tertarik ke atas.
Dalam konteks kekinian, ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi perempuan dulu, bahwa mereka rela melakukan apa saja bahkan menyiksa dirinya untuk mendapatkan prestise kecantikan. Ironisnya lagi untuk tampil cantik – tepatnya untuk dikatakan cantik – sebagian perempuan mau melakukan tindakan hina dengan membuka auratnya. Seperti yang kita telah ketahui bahwa indonesia akan menjadi tuan rumah sebuah ajang kecantikan internasional yakni Miss World dengan slogan “show indonesia’s beauty to the world” namun pada hakikatnya menjadikan indonesia yang mayoritas islam menjadi panggung pertunjukan aurat perempuan sejagat raya.
Kontes kecantikan ini berawal dari festival lomba yang bernama Festival Bikini Contest, kemudian berganti nama menjadi Miss World. pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Dan ironisnya panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan hewan. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut tersebut diuji-coba untuk manusia. namun beberapa tahun kemudian muncul konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian). Konsep 3B ini sebenarnya hanya untuk memoles kontes kecantikan agar diterima banyak kalangan
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daoed Joesoef, dalam memoarnya, Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran (2006) tercatat sebagai seorang pengkritik keras berbagai praktik ”kontes kecantikan”.
Ia menulis: ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara.”

RITUALISME MENELANJANGI KAUM PEREMPUAN
Atas nama Hak asasi manusia Eksploitasi terhadap perempuan mengalir deras tak terbendung, dipelopori oleh kaum kapitalis yang mengedepankan prinsip ekonomi semata, walau harus mengeksploitasi komunitas perempuan sebagai jembatan meraih keberuntungan. Ajang Miss World yang dikemas dikemas dengan jargon-jargon sosial bahkan pendidikan. Seolah-olah, kontes kecantikan perempuan adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Praktik kontes perempuan lebih merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan atau menuut penulis adalah sebuah ritual untuk menelanjangi perempuan indonesia . Pakaian yang ala kadarnya – biasanya berupa bikini dan sejenisnya – disyaratkan untuk dikenakan pada sesi tertentu agar tubuh kontestan dapat dilihat dan diukur dengan jelas. Tentu saja orang bisa melihat pada sisi yang berbeda. Tergantung pada cara pandangnya terhadap realitas (worldview). Seorang yang berpaham materialisme dan sekulerisme tidak mempersoalkan masalah moral terhadap kontes semacam ini. Haram-halal, berdosa atau berpahala, ibadah atau maksiat, bukanlah hal penting bagi kaum materialis. Bagi mereka yang terpenting adalah kelimpahan materi, ketenaran, dan puja-pujian terhadap kecantikannya. Menurut Daoed Joesoef, wanita yang terjebak ke dalam kontes ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. ”Pendek kata kalau di zaman dahulu para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan perempuan di forum internasional.”
Menyimak kekeliruan dan ketidakberadaban kontes-kontes kecantikan, kita berharap tidak ada orang Muslim yang ikut-ikutan mendukung berbagai jenis kontes kecantikan, semisal kontes Miss World, karna dengan turut mendukung berarti kita turut mengobrak –abrik perpustakaan peradaban yang akan mencetak generasi pemimpin pembela agama, bangsa dan negara .Jadi kontes Miss World bukanlah hanya soal baju, tapi soal penetapan dan pemberian penghargaan martabat perempuan yang keliru. Kecantikan bagi seorang perempuan adalah karunia dan sekaligus ujian Allah bagi si perempuan. Harusnya, kecantikannya digunakan untuk beribadah dan dakwah. Ironisnya, biasa kita saksikan, perempuan-perempuan yang terjebak oleh bujuk rayu setan agar mengeksploitasi kecantikan dan kemolekan tubuhnya untuk menggoncang-goncang syahwat lawan jenisnya. Dan itu tentu ada imbalan yang menggiurkan, berupa kemikmatan hidup duniawi.

Perempuan – perempuan bangsa kita bukanlah domain publik yang bisa dinikmati oleh segala jenis manusia., namun perempuan kita harus dijaga dengan penjagaan yang sesuati dengan etika yang tidak mengenyampingkan nilai-nilai agama. Alam raya Indonesia yang dikenal dengan ibu pertiwi, dimana anak manusia nya membiarkan perempuan-perempuan,calon ibu masa depan dieksploitasi dan diperlakukan dengan tidak beradab, maka tegakah kita melihat Ibu pertiwi ditelanjangan lalu menangis kehilangan kehormatannya.

Ditulis dimakassar 04 september 2013-09-03
Oleh Nirwana
Mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Makassar
Ketua Bidang Media dan Komunikasi
Dewan Pimpinan Daerah IMM SULSELBAR

Paraphrasing Strategy in Teaching Reading Comprehension

Paraphrasing Strategy in Teaching Reading Comprehension
Nirwana
Arifuddin Hamra
Kisman Salija

Nirwana graduated from the Post Graduate Program of Universitas Negeri Makassar and she is a teacher at Mts Ummul Mukminin Makassar.
Arifuddin Hamra is a professor of English Language Teaching at Universitas Negeri Makassar, He got his Master degree at the State University of Buffalo, U.S.A. and his Doctor degree at Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia.
Kisman Salija is senior lecturer at Universitas Negeri Makassar. He got his Doctor degree at Universitas Negeri Malang.

Abstract

This study aims at finding out the implementation of paraphrasing strategy in teaching reading comprehension for the students at Mts Ummul Mukninin Makassar and the interest to the use of that strategy in the teaching and learning process. The methode was quasi-experimental design. The subject consisted of 30 students for experimental group and 30 students for control group. The instruments consisted of a reading comprehension test and a questioner. The result shows that paraphrasing stratgey significantly enhances the students’ reading comprehension.It was proved by t-test value of paraphrasing strategy 0.00 and indicated lower that t-table (alpha) in the significany level 0.05 (.000 < .05). The students’ interest is categorized in high category for experimental group which is proved by the mean score of students’ interest 71.87. Finally, paraphrasing strategy contributes to the enhancement of reading comprehension achievement and improves the students’ interest in reading English texts.

IMMAWATI KEKINIAN

tangguh

Wajah perempuan kekinian mensyaratkan perempuan menyiapkan diri sebagai subyek perubahan. Bahkan sudah bukan lagi mengedepankan kelemahan, keadaan, dan kenyataan yang diterima dengan tidak bertindak, tapi sudah harus terus bergerak, bahkan lari kedepan untuk mengeksplore diri serta berdakwah dalam tindakan nyata. Banyaknya diskursus perempuan bukan karna perempuan adalah objek yang menarik, melainkan pada realitasnya perempuan pada isu – isu tertentu masih banyak menjadi victim baik karna kebijakan yang bias ataupun karna konstruksi budaya dan alasan lainnya. Peranan IMM-wati dalam hal ini sangat diperlukan mengingat IMM-wati sebagai bagian dari masyarakat intelektual muda (baca:mahasiswa) yang memiliki ide, gagasan segar dan inovatif dengan paradigma yang progressive, untuk menjadi pelaku aktif dalam pembangunan dan kontrol sosial..
Setengah Abad IMM, tentu saja kiprah perempuan IMM terhadap pembentukan moralitas bangsa tidak lagi diragukan, Keseriusan IMM-wati dalam upaya merespon berbagai realitas sosial-keummatan sekaligus mengembangkan bentuk artikulasi yang dianggap sangat relevan dengan kondisi bangsa dan negara terkonsentrasi pada wadah pembinaan dan pendidikan IMM-wati yang kritis, cerdas, kreatif dan inovatif seperti diksuswati tingkat madya yang sedang dilakasnakan oleh IMM Makassar saat ini.
Namun kita bisa melihat dan merasakan dengan jelas bahwa Peradaban manusia serta perubahan zaman begitu kompleks seiring dengan perputaran waktu yang berkonsekwensi pada gerak suatu bangsa yang terjadi sangat cepat sebagai akses dari globalisasi, dan terma-terma perubahan lainnya menyebabkan banyak fenomena sosial. Fenomena diatas menyeret IMM-wati untuk senantiasa merefleksi dan merestrospeksikan gerakannya seiring dengan dialektika perubahan yang semakin dinamis. Landasan gerakan immawati tentu saja, sesuai dengan landasan tri dimensi gerakan, yaitu ; Spritualitas (ideologi, sebagai landasan dan nilai-nilai yang dikandungnya adalah Islam untuk kemanusiaan universal untuk mengkonstruksi potret muslimah yang tetap berpegang teguh pada etika dan moralitas Islam), Intelektualitas (intelektual, sebagai landasan pemikiran melalui kekayaan dispilin ilmu yang berbeda-beda agar dapat bermanfaat bagi progressifitas ikatan) dan Humanitas (sebagai landasan kepekaan terhadap fenomena ummat dan bangsa agar senantiasa memberikan kontribusi kebijakan dalam perencanaan pembangunan dan atau terjun langsung dalam tatanan gerakan praksis akar rumput untuk peradaban).
Selain refleksi gerakan yang tidak kalah penting untuk IMMawati adalah rekosntruksi mental dan kepribadian. Hal pertama yang harus direkonstruksi adalah afiliasi atau komitmen terhadap Islam dalam segala hal dan kondisi sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas dan karakternya. Komitmen secara aqidah, yang menetapkan tujuan dan orientasi kehidupan. Komitmen secara ibadah, yang menentukan pola dan jalan kehidupan. Komitmen secara akhlak, yang menentukan pola sikap dan perilaku dalam seluruh aspek kehidupan, karna komitmen inilah yang menjadikan immawati tetap tegak berdiri ditengah absurditas globalisasi yang kian mencengkram. Tahap selanjutnya adalah memaksimalkan partisipasi. Pada tahap inilah seorang IMMawati diharuskan untuk melebur dan bersinergi dengan masyarakat untuk mendistribusikan keshalihannya. Partisipasi yang dimaksud adalah komitmen untuk mendukung semua proyek kebajikan dan melawan semua proyek kemunkaran. Komitmen untuk selalu menjadi faktor pemberi atau pembawa manfaat dalam masyarakat. Dan komitmen untuk selalu menjadi faktor perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial.Tahap rekonstruksi terakhir adalah kontribusi, di mana seorang IMMawati telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya (keluarga, masyarakat, dan perusahaan/ kantor) dan berusaha meningkatkan efisiensi dan efektifitas hidupnya. Hal yang dilakukan dalam tahap kontribusi ini menurut Matta (2011: 11) adalah dengan cara menajamkan posisi dan perannya, sesuatu yang kemudian menjadi spesialisasinya, agar ia lebih tepat dan sesuai dengan kompetensinya. Dengan cara itulah seorang IMMawati dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya, dan menyiapkan sebuah ”amal unggulan” atau karya terbesar dalam hidupnya.
Dalam praksis gerakannya, IMMwati sebagai salah satu bagian dari bangunan gerakan keperempuanan diharapkan mampu menjadi perwajahan perempuan kekinian lebih baik untuk Indonesia maupun dunia kedepannya. Dengan adanya penanaman dan peneguhan nilai-nilai kemanusiaan yang menghumanisasi perempuan yang didasarkan atas nilai transcendental atau keimanan kepada Allah Swt akan mewujudkan immawati yang berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. Dan inilah yang mejadi modal utama bagi seorang Immawati untuk menjadi immawati berkeadaban serta salah satu pilar lokomotif bagi perubahan dan transformasi social.

Generasi apatis, Guru pragmatis dan sistem pendidikan antirealitas

gambar

Pendidikan adalah salah satu pilar utama yang menentukan keberhasilan dan keberlangsungan pembangunan suatu Negara. Dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 disebutkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Sisdiknas).
Berdasarkan pemaparan diatas ketika kita mengkorelasikan dengan realitas sekarang , maka bisa disimpulkan bahwa tujuan pendidikan nasional di negara kita masih jauh dari apa yang diharapkan. kita perlu mengkaji lebih jauh ketimpangan – ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan kita saat ini, bahwa melihat kualitas sebuah proses tentu kita melihat hasil dari proses tersebut, dalam hal ini yang akan kita telisik lebih jauh adalah kualitas pelajar yang justru bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. banyak pelajar yang kurang terkontrol perilakunya sehingga menyimpang dan berperilaku tidak seperti anak terpelajar. Kita pasti biasa melihat pelajar yang merokok di pinggir jalan dengan memakai seragam, tawuran, pergaulan bebas, berboncengan mepet, di internet berduaan dengan lawan jenis dan masih banyak perilaku yang tidak sesuai. Masyarakat pasti bertanya-tanya, mengapa pelajar sekarang tidak terkontrol perilakunya bahkan pelajar kita cenderung apatis ? apakah sekolah gagal memahamkan para pelajar bahwa merokok itu berbahaya, apakah sekolah tempat mereka berinteraksi setiap hari gagal memahamkan mereka tentang etika dan akhlak yang baik itu seperti apa? Ataukah system pendidikan yang kita terapkan masih antirealitas sehingga jauh panggang dari api.
Kita bisa mengambil sebuah analogi sederhana, ketika kita ingin membuat kue maka kita akan menyiapkan alat dan bahan yang kita butuhkan, kemudian kita proses sebagaimana mestinya, tetapi apa yang kita pikirkan ketika kue yang kita buat dengan bahan dan alat dasar terbaik pada akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, misalnya kuenya terlalu lembek, atau terlalu keras. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan alat dan bahan yang kita gunakan melainkan proses yang kita lewati yang mesti di evaluasi. Mengapa Negara lain dengan alat dan bahan yang sama bisa menghasilkan output pendidikan yang berkualitas, perbandingan sederhanya misalkan Negara tetangga Malaysia , Singapore, atau Brunei mengapa kualitas pendidikan mereka lebih tinggi dibanding Negara kita padahal kita memiliki sumber daya manusia yang sama dengan system pendidikan yang hampir sama pula. Berkali – kali kurikulum pendidikan di Negara kita diganti dengan harapan bisa memberikan hasil terbaik bagi dunia pendidikan di negara kita karna seyogyanya pendidikan yang baik akan menghasilkan manusia yang baik (good men). Namun hasil dari pergantian kurikulum tersebut hanya menyisakan banyak tanya bagi masyarakat, mendatangkan kesimpangsiuran, dan menuai pro kontra dari berbagai kalangan.
Seorang bijak pernah mengatakan, ketika kita tidak bisa merubah sebuah keadaan maka cobalah rubah cara pandang atau paradigma kita terhadap hal tersebut, dengan merubah cara pandang kita maka otomatis pemahaman dan perlakuan kita akan berbeda. Kita mulai dari yang melakukan proses pendidikan tersebut yakni guru. Salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan kita dalah guru, kualitas guru tentu saja sangat mempengaruhi kulitas peserta didiknya. Pertanyaannya bagaimana realitas guru dinegara kita? Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, guru haruslah professional kreatif dan menyenangkan, sosok guru adalah orang tua bagi muridnya, teman dan fasilitator yang siap untuk melayani murid sesuai dengan minat dan bakatnya. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utamanya. Dalam hal ini bukan hanya proses mentransfer lmu yang dilakukan oleh seorang guru melainkan menanamkan sikap dan nilai pada diri anak didik yang sedang belajar. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan have a good teacher , will have good nation. Guru memiliki kedudukan yang sangat mulia dari merekalah tercipta generasi emas dengan peradaban yang sangat gemilang. Maka dari itu terlalu rendah jika profesi seorang guru hanya di nilai dengan materi, karna pekerjaan guru adalah pekerjaan intelektual yang tidak bisa dinilai dengan materi apapun. Ironisnya begitu banyak guru dinegara kita yang beorientasi pragmatisme, menjadi guru hanya untuk memenuhi kebutuhan materinya semata namun tidak memahami fungsi guru sebagai pilar utama pendidikan dan pencetak generasi gemilang.
Menurut salah seorang cendekiawan muslim Adian Husaini, banyak guru dan para orangtua yang terjangkiti penyakit sekolahisme, sekolahisme adalah paham yang menganggap proses pendidikan atau pembelajaran hanya berlangsung disekolah saja. Guru yang terjangkiti penyakit sekolahisme akan berhenti belajar karna mereka sudah menjadi seorang guru, mereka menyampaikan ilmu yang berulang – ulang kepada peserta didiknya karna mereka mengganggap yang wajib belajar adalah peserta didik. Guru hanya melakukan transfer pengetahuan namun tidak melakukan transfer nilai padahal tujuan utama dari proses belajar adalah membentuk sikap dan karakter peserta didik itu sendiri. Orangtua yang terjangkiti penyakit sekolahisme akan menyerahkan proses pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tempat anaknya belajar, mereka juga tidak lagi mau belajar karna mereka sudah membayar sekolah untuk medidik anaknya dalam segala aspek, padahal orangtua memiliki andil yang cukup penting dalam proses pendidikan anaknya, bahwa sekolah tidak serta merta menjadikan anak mereka cerdas dan berakhlak tanpa bantuan dari orangtuanya dirumah.
Berbagai hal diatas menjadikan polemik pendidikan dinegara kita menjadi semakin kompleks , karna berbagai komponen penting didalamnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, belum lagi lingkungan yang sudah tak lagi kondusif, gempuran teknologi yang tidak ditanggapi dengan cerdas menjadikan pendidikan di Negara kita semakin carut marut, godaan teknologi yang sangat menggiurkan menjadikan generasi kita semakin apatis bahkan cenderung skeptis, guru dan orang tua yang pragmatis serta sistem pendidikan yang tidak konsisten. Kita membutuhkan komitmen dan konsistensi guru dan orang tua harus menumbuhkan kesadaran kepada peserta didik kita bahwa merekalah generasi pelanjut yang akan menentukan masa depan bangsa, guru harus selalu memotivasi dirinya untuk terus belajar karan mereka adalah pilar penentu proses pendidikan, bahwa selain pengetahuan mereka juga harus mengajarkan moral dan sikap dengan cara mencontohkan kepada peserta didiknya. Begitupun dengan orang tua, merekalah yang memilki kewajiban utama untuk mendidik anak – anaknya sekolah hanyalah tempat persinggahan untu mereka berproses menjadi manusia utuh, namun yang menentukan adalah peran mereka sebagai orang tua. sistem pendidikan kita seharusnya lebih aplikabel dan menjadikan proses pendidikan menjadi semakin mudah.

Penulis : Nirwana S.Pd, M.Pd
Pekerjaan : guru pondok pesantren ummul mukminin
Dosen bahasa inggris STKIP MUHAMMADIYAH ENREKANG

Jabatan dimuhammadiyah : KABID RISTEK DPD IMM SULSEL PERIODE 2013-2015
: ANGGOTA MAJELIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (MPM) PIMPINAN WILAYAH MUHAMMADIYAH SULSEL

KESADARAN LITERASI DAN INDONESIA BERKEMAJUAN


(* Nirwana. S.Pd, M.Pd “guru Ponpes Putri Ummul Mukminin”)

“ Menulis adalah pengabdian seumur hidup”
Pramodya anantatoer

Budaya literasi merupakan ciri khas penting untuk menunjukkan majunya suatu bangsa. dengan banyak membaca masyarakat akan mampu membuka sekat – sekat dunia, menjelajah lebih jauh dengan menelusuri lorong – lorong sejarah, sedangkan dengan menulis kita mampu menyajikan kembali jejak – jejak pengetahuan yang kita dapatkan dari membaca kepada masyarakat luas. Membaca adalah kunci utama dimulainya sebuah peradaban yang baru. Hal ini karena untuk menuju peradaban harus dibekali dengan ilmu. Ilmu tersebut dapat diraih dengan cara membaca. Tidak hanya berhenti pada membaca saja, tetapi harus menuangkan informasi yang diperoleh melalui sebuah tulisan.
Kemajuan peradaban terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia yakni islam juga di awali dengan tumbuhnya kesadaran literasi, hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya literatur – literatur dari para pendahulu kita misalnya pesan – pesan arab yang mengatakan “ ikatlah ilmu dengan tulisan” sementara membaca sendiri telah menjadi ultimatum bagi seluruh ummat manusia melalui pesan suci yang terdokumentasikan dalam kitab suci alqur’an yakni ayat yang pertama kali diturunkan menyuruh kita untuk “ iqra” membaca. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia? Apakah masyarakatnya sudah berliteri?
Pada tahun 2011, berdasarkan data statistik evaluative yang dikeluarkan UNESCO (United Education Scientific and Cultural Organization) menyatakan bahwa Indonesia memiliki indeks 0,001, bahkan dari segi minat baca indonesia menempati urutan terendah di ASEAN (Association of South East Asian Nation). Kisarannya, dari seribu orang masyarakat Indonesia hanya ada satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Selain itu, yang lebih mengejutkan lagi ternyata indonesia menempati posisi ke-38 dari 39 negara yang ada di dunia. Hal ini sangat memprihatinkan bagi negara Indonesia. Bagaimana Indonesia memiliki peradaban yang maju jika masyarakatnya tidak mempunyai kesadaran literasi dari sekarang.
Selain fakta autentik diatas, minimnya kesadaran literasi dinegara kita juga tampak dalam keseharian para generasi muda yang semakin hari terkikis oleh buaian globalisasi dan modernisme. Pertama, sangat jarang kita menjumpai orang atau sekelompok orang yang disela aktivitasnya di isi dengan membaca, perhatian masyarakat secara umum lebih banyak mengarah padal hal – hal yang sifatnya menghibur secara instan meskipun menghabiskan banyak biaya, sementara membaca dan menulis dianggap sebagai beban pikiran serta tidak menguntungkan. kedua rendahnya masyarakat yang berkunjungke tempat – tempat perbukuan. Sebagian besar yang mendatangi, toko – toko buku dan perpustakaan maupun pameran buku tidak didasari atas kecintaan mereka terhadap buku melainkan sekedar refreshing atu tuntutan tugas. Ironisnya, saya pernah mendapati sebuah toko buku yang gulung tikar karna kurangnya minat masyarakat setempat terhadap buku, bahkan perpustakaan – perpustakaan umum nyaris sepi pengunjung kecuali ada event tertentu. Ketiga aktivitas menulis hanya diminati orang – orang tertentu umumnya kalangan akademisi itupun syarat dengan tendensi misalnya persyaratan menyelesaikan studi maupun tendensi material bukan semata – mata karna kecintaan dan kesadaran akan berbagi dalam hal literasi. Keempat minimnya orang yang melakukan diskursus dilembaga – lembaga pendidikan. Seyogyanya lembaga pendidikan menjadi sentrum dari geliat produksi dan reproduksi pengetahuan dimana hal tersebut diawali dengan membaca yang teruskan dengan menulis dan berdiskusi, sayangnya kegiatan – kegiatan yang menstimulus kesadaran berliteri sangat jarang digalakkan oleh lembaga – lembaga pendidikan tersebut. .
Hal yang tidak kalah pentingnya mempengaruhi tingkat literasi adalah proses belajar mengajar yang diterapkan oleh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Apabila seorang pengajar (guru) tidak pernah mengajak siswanya untuk membaca dan menulis maka tidak akan ada generasi muda yang berliterasi. Seharusnya kurikulum pendidikan yang ada di sekolah dapat mengarahkan pada kegiatan baca-tulis. Hal ini harus berjalan secara bersamaan. Artinya tidak boleh berjalan secara sendiri-sendiri misalnya lebih banyak mengarahkan siswanya membaca ataupun sebaliknya.
Berdasarkan data yang dipublkasikan oleh Center For Social Marketing (CSM), bahwa indonesia berada pada posisi yang memprihatinkan pada perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara. Di Amerika Serikat jumlah buku yang wajib dibaca siswa sebanyak 32 judul buku, Perancis 30 buku, Belanda 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, dan Thailand 5 buku semntara Indonesia 0 buku.
Berdasarkan data – data diatas, maka sudah saatnya kita sebagai pendidik generasi muda yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan bangsa serta memiliki andil besar dalam menentukan masa depan bangsa, sudah saatnya memikirkan cara membangun kesadaran literasi di negeri in yang akan kita mulai dari anak didik kita disekolah. Namun partisipasi orang tua juga sangat penting untuk membangun kesadaran literasi generasi muda, pertama dimulai dari lingkungan keluarga. Kebiasaan akan terbentuk sejak usia dini. Oleh karena itu, cara yang dapat membiasakan anak membaca dan menulis adalah keluarganya sendiri. Disinilah peran orangtua dianggap penting. Orangtualah yang memupuk anaknya untuk terbiasa membaca dan menulis contonya dengan cara menyediakan fasilitas yang dapat digunakan anak untuk membaca dan menulis.
Selain peran guru/ dosen dan orang tua membangun kesadaran literasi bagi generasi muda, pemerintah dan masyarakat perlu bergandengan tangan, dalam hal ini ada beberapa hal yang menjadi rekomendasi dalam rangka mendukung gerakan sadar literasi tersebut diantaranya : 1. lembaga- lembaga pendidikan dan para penerbit harusnya meningkatkan intensitas pameran buku dengan skal yang besa, melibatkan banyak penulis baik dari dalam maupun luar negeri seperti yang telah dilakukan oleh negara – negara majua yang telah berhasil membangun budaya literasi. 2. Pemerintah perlu memberikan subsidi pada industri perbukuan agar harga – harga buku lebih terjangkau, karna tidak bisa dipungkiri bahwa kurangnya minat membeli buku juga dipengaruhi faktor finansial.3. pemerintah harusnya menfasilitasi berdirinya perpustakaan yang lebih modern, sehingga bisa menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk membaca dan menulis, bukan hanya dari fasilitasnya tapi juga variant buku yang harus selalu terbarui.5. diperlukan adanya sosialisasi secara intensif kepada masyarakat, berupa iklan dan atribut – atribut literasi yang menarik minat masyarakat. Dan yang terakhir adalah menggiatkan kegiatan lomba menulis dikalangan pelajar dan masyarakat umum seperti yang dilakukan balai bahasa sulawesi – selatan pada kesempatan kali ini.
Mengembangkan budaya literasi pada suatu bangsa sama dengan dengan mengembangkan seluruh potensi masyrakatnya. Terbukti dari beberapa negara maju yang ternyata membangun negaranya diawali dengan program membangun budaya membaca dikalangan masyarakatnya contohnya Cina, Jepang, dan Singapura. Ada sebuah slogan dari Francis Bacon yang mengatakan bahwa “ knowledge is power”, barangsiapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan menjadi penguasa. Dan awal dari pengetahuan adalah membaca dan menulis. Pada intinya bisa kita simpulkan bahwa kesadaran literasi berbanding lurus dengan kemajuan sebuah bangsa.
Secara khusus indonesia membutuhkan literat yang handal, membawa bangsa ini pada persaingan global tidak membutuhkan provokator – provokator demontrasi yang bersuara tanpa analisis ilmiah dan tanpa sebuah solusi yang membangun, justru realitasnya meresahkan masyarakat luas. Opini dan solusi membangun yang terpublikasikan dengan santun, ilmiah dan masuk akal yang kita harapkan. Tak perlu melakukan parlemen jalanan alias demonstrasi untuk menyuarakan opini ditemani rasa lelah dan bahkan pengorbanan finansial yang besar. Jika budaya literasi telah mengakar kta bisa melakukan kritik dengan membuat opini di media massa, hal ini justru akan lebih efisien dan sekaligus melatih nalar kita menuju masa depan bangsa yang sejahtra.
Budaya literasi adalah lambang kemajuan, lambang pengetahuan, bahkan lambang peradaban. Semakin maju sebuah negara semakin tinggi pula kesadaran literasinya, karna literasi mengandung makna intelektualitas, kreativitas dan keterpelajaran. Maka dari itu sudah sepantasnya kita rubah mindset kita tentang membaca dan menulis. Mulailah dari sekarang untuk menjadikan diri kita menjadi pribadi yang berbudaya membaca dan menulis atau berliterasi. Dengan begitu negara yang kita cintai akan jauh lebih baik dan maju dengan masyarakatnya yang berlitarasi.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑