(* Nirwana. S.Pd, M.Pd “guru Ponpes Putri Ummul Mukminin”)

“ Menulis adalah pengabdian seumur hidup”
Pramodya anantatoer

Budaya literasi merupakan ciri khas penting untuk menunjukkan majunya suatu bangsa. dengan banyak membaca masyarakat akan mampu membuka sekat – sekat dunia, menjelajah lebih jauh dengan menelusuri lorong – lorong sejarah, sedangkan dengan menulis kita mampu menyajikan kembali jejak – jejak pengetahuan yang kita dapatkan dari membaca kepada masyarakat luas. Membaca adalah kunci utama dimulainya sebuah peradaban yang baru. Hal ini karena untuk menuju peradaban harus dibekali dengan ilmu. Ilmu tersebut dapat diraih dengan cara membaca. Tidak hanya berhenti pada membaca saja, tetapi harus menuangkan informasi yang diperoleh melalui sebuah tulisan.
Kemajuan peradaban terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia yakni islam juga di awali dengan tumbuhnya kesadaran literasi, hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya literatur – literatur dari para pendahulu kita misalnya pesan – pesan arab yang mengatakan “ ikatlah ilmu dengan tulisan” sementara membaca sendiri telah menjadi ultimatum bagi seluruh ummat manusia melalui pesan suci yang terdokumentasikan dalam kitab suci alqur’an yakni ayat yang pertama kali diturunkan menyuruh kita untuk “ iqra” membaca. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia? Apakah masyarakatnya sudah berliteri?
Pada tahun 2011, berdasarkan data statistik evaluative yang dikeluarkan UNESCO (United Education Scientific and Cultural Organization) menyatakan bahwa Indonesia memiliki indeks 0,001, bahkan dari segi minat baca indonesia menempati urutan terendah di ASEAN (Association of South East Asian Nation). Kisarannya, dari seribu orang masyarakat Indonesia hanya ada satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Selain itu, yang lebih mengejutkan lagi ternyata indonesia menempati posisi ke-38 dari 39 negara yang ada di dunia. Hal ini sangat memprihatinkan bagi negara Indonesia. Bagaimana Indonesia memiliki peradaban yang maju jika masyarakatnya tidak mempunyai kesadaran literasi dari sekarang.
Selain fakta autentik diatas, minimnya kesadaran literasi dinegara kita juga tampak dalam keseharian para generasi muda yang semakin hari terkikis oleh buaian globalisasi dan modernisme. Pertama, sangat jarang kita menjumpai orang atau sekelompok orang yang disela aktivitasnya di isi dengan membaca, perhatian masyarakat secara umum lebih banyak mengarah padal hal – hal yang sifatnya menghibur secara instan meskipun menghabiskan banyak biaya, sementara membaca dan menulis dianggap sebagai beban pikiran serta tidak menguntungkan. kedua rendahnya masyarakat yang berkunjungke tempat – tempat perbukuan. Sebagian besar yang mendatangi, toko – toko buku dan perpustakaan maupun pameran buku tidak didasari atas kecintaan mereka terhadap buku melainkan sekedar refreshing atu tuntutan tugas. Ironisnya, saya pernah mendapati sebuah toko buku yang gulung tikar karna kurangnya minat masyarakat setempat terhadap buku, bahkan perpustakaan – perpustakaan umum nyaris sepi pengunjung kecuali ada event tertentu. Ketiga aktivitas menulis hanya diminati orang – orang tertentu umumnya kalangan akademisi itupun syarat dengan tendensi misalnya persyaratan menyelesaikan studi maupun tendensi material bukan semata – mata karna kecintaan dan kesadaran akan berbagi dalam hal literasi. Keempat minimnya orang yang melakukan diskursus dilembaga – lembaga pendidikan. Seyogyanya lembaga pendidikan menjadi sentrum dari geliat produksi dan reproduksi pengetahuan dimana hal tersebut diawali dengan membaca yang teruskan dengan menulis dan berdiskusi, sayangnya kegiatan – kegiatan yang menstimulus kesadaran berliteri sangat jarang digalakkan oleh lembaga – lembaga pendidikan tersebut. .
Hal yang tidak kalah pentingnya mempengaruhi tingkat literasi adalah proses belajar mengajar yang diterapkan oleh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Apabila seorang pengajar (guru) tidak pernah mengajak siswanya untuk membaca dan menulis maka tidak akan ada generasi muda yang berliterasi. Seharusnya kurikulum pendidikan yang ada di sekolah dapat mengarahkan pada kegiatan baca-tulis. Hal ini harus berjalan secara bersamaan. Artinya tidak boleh berjalan secara sendiri-sendiri misalnya lebih banyak mengarahkan siswanya membaca ataupun sebaliknya.
Berdasarkan data yang dipublkasikan oleh Center For Social Marketing (CSM), bahwa indonesia berada pada posisi yang memprihatinkan pada perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara. Di Amerika Serikat jumlah buku yang wajib dibaca siswa sebanyak 32 judul buku, Perancis 30 buku, Belanda 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, dan Thailand 5 buku semntara Indonesia 0 buku.
Berdasarkan data – data diatas, maka sudah saatnya kita sebagai pendidik generasi muda yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan bangsa serta memiliki andil besar dalam menentukan masa depan bangsa, sudah saatnya memikirkan cara membangun kesadaran literasi di negeri in yang akan kita mulai dari anak didik kita disekolah. Namun partisipasi orang tua juga sangat penting untuk membangun kesadaran literasi generasi muda, pertama dimulai dari lingkungan keluarga. Kebiasaan akan terbentuk sejak usia dini. Oleh karena itu, cara yang dapat membiasakan anak membaca dan menulis adalah keluarganya sendiri. Disinilah peran orangtua dianggap penting. Orangtualah yang memupuk anaknya untuk terbiasa membaca dan menulis contonya dengan cara menyediakan fasilitas yang dapat digunakan anak untuk membaca dan menulis.
Selain peran guru/ dosen dan orang tua membangun kesadaran literasi bagi generasi muda, pemerintah dan masyarakat perlu bergandengan tangan, dalam hal ini ada beberapa hal yang menjadi rekomendasi dalam rangka mendukung gerakan sadar literasi tersebut diantaranya : 1. lembaga- lembaga pendidikan dan para penerbit harusnya meningkatkan intensitas pameran buku dengan skal yang besa, melibatkan banyak penulis baik dari dalam maupun luar negeri seperti yang telah dilakukan oleh negara – negara majua yang telah berhasil membangun budaya literasi. 2. Pemerintah perlu memberikan subsidi pada industri perbukuan agar harga – harga buku lebih terjangkau, karna tidak bisa dipungkiri bahwa kurangnya minat membeli buku juga dipengaruhi faktor finansial.3. pemerintah harusnya menfasilitasi berdirinya perpustakaan yang lebih modern, sehingga bisa menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk membaca dan menulis, bukan hanya dari fasilitasnya tapi juga variant buku yang harus selalu terbarui.5. diperlukan adanya sosialisasi secara intensif kepada masyarakat, berupa iklan dan atribut – atribut literasi yang menarik minat masyarakat. Dan yang terakhir adalah menggiatkan kegiatan lomba menulis dikalangan pelajar dan masyarakat umum seperti yang dilakukan balai bahasa sulawesi – selatan pada kesempatan kali ini.
Mengembangkan budaya literasi pada suatu bangsa sama dengan dengan mengembangkan seluruh potensi masyrakatnya. Terbukti dari beberapa negara maju yang ternyata membangun negaranya diawali dengan program membangun budaya membaca dikalangan masyarakatnya contohnya Cina, Jepang, dan Singapura. Ada sebuah slogan dari Francis Bacon yang mengatakan bahwa “ knowledge is power”, barangsiapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan menjadi penguasa. Dan awal dari pengetahuan adalah membaca dan menulis. Pada intinya bisa kita simpulkan bahwa kesadaran literasi berbanding lurus dengan kemajuan sebuah bangsa.
Secara khusus indonesia membutuhkan literat yang handal, membawa bangsa ini pada persaingan global tidak membutuhkan provokator – provokator demontrasi yang bersuara tanpa analisis ilmiah dan tanpa sebuah solusi yang membangun, justru realitasnya meresahkan masyarakat luas. Opini dan solusi membangun yang terpublikasikan dengan santun, ilmiah dan masuk akal yang kita harapkan. Tak perlu melakukan parlemen jalanan alias demonstrasi untuk menyuarakan opini ditemani rasa lelah dan bahkan pengorbanan finansial yang besar. Jika budaya literasi telah mengakar kta bisa melakukan kritik dengan membuat opini di media massa, hal ini justru akan lebih efisien dan sekaligus melatih nalar kita menuju masa depan bangsa yang sejahtra.
Budaya literasi adalah lambang kemajuan, lambang pengetahuan, bahkan lambang peradaban. Semakin maju sebuah negara semakin tinggi pula kesadaran literasinya, karna literasi mengandung makna intelektualitas, kreativitas dan keterpelajaran. Maka dari itu sudah sepantasnya kita rubah mindset kita tentang membaca dan menulis. Mulailah dari sekarang untuk menjadikan diri kita menjadi pribadi yang berbudaya membaca dan menulis atau berliterasi. Dengan begitu negara yang kita cintai akan jauh lebih baik dan maju dengan masyarakatnya yang berlitarasi.

Iklan