gambar

Pendidikan adalah salah satu pilar utama yang menentukan keberhasilan dan keberlangsungan pembangunan suatu Negara. Dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 disebutkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Sisdiknas).
Berdasarkan pemaparan diatas ketika kita mengkorelasikan dengan realitas sekarang , maka bisa disimpulkan bahwa tujuan pendidikan nasional di negara kita masih jauh dari apa yang diharapkan. kita perlu mengkaji lebih jauh ketimpangan – ketimpangan yang terjadi di dunia pendidikan kita saat ini, bahwa melihat kualitas sebuah proses tentu kita melihat hasil dari proses tersebut, dalam hal ini yang akan kita telisik lebih jauh adalah kualitas pelajar yang justru bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. banyak pelajar yang kurang terkontrol perilakunya sehingga menyimpang dan berperilaku tidak seperti anak terpelajar. Kita pasti biasa melihat pelajar yang merokok di pinggir jalan dengan memakai seragam, tawuran, pergaulan bebas, berboncengan mepet, di internet berduaan dengan lawan jenis dan masih banyak perilaku yang tidak sesuai. Masyarakat pasti bertanya-tanya, mengapa pelajar sekarang tidak terkontrol perilakunya bahkan pelajar kita cenderung apatis ? apakah sekolah gagal memahamkan para pelajar bahwa merokok itu berbahaya, apakah sekolah tempat mereka berinteraksi setiap hari gagal memahamkan mereka tentang etika dan akhlak yang baik itu seperti apa? Ataukah system pendidikan yang kita terapkan masih antirealitas sehingga jauh panggang dari api.
Kita bisa mengambil sebuah analogi sederhana, ketika kita ingin membuat kue maka kita akan menyiapkan alat dan bahan yang kita butuhkan, kemudian kita proses sebagaimana mestinya, tetapi apa yang kita pikirkan ketika kue yang kita buat dengan bahan dan alat dasar terbaik pada akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, misalnya kuenya terlalu lembek, atau terlalu keras. Tentu saja kita tidak bisa menyalahkan alat dan bahan yang kita gunakan melainkan proses yang kita lewati yang mesti di evaluasi. Mengapa Negara lain dengan alat dan bahan yang sama bisa menghasilkan output pendidikan yang berkualitas, perbandingan sederhanya misalkan Negara tetangga Malaysia , Singapore, atau Brunei mengapa kualitas pendidikan mereka lebih tinggi dibanding Negara kita padahal kita memiliki sumber daya manusia yang sama dengan system pendidikan yang hampir sama pula. Berkali – kali kurikulum pendidikan di Negara kita diganti dengan harapan bisa memberikan hasil terbaik bagi dunia pendidikan di negara kita karna seyogyanya pendidikan yang baik akan menghasilkan manusia yang baik (good men). Namun hasil dari pergantian kurikulum tersebut hanya menyisakan banyak tanya bagi masyarakat, mendatangkan kesimpangsiuran, dan menuai pro kontra dari berbagai kalangan.
Seorang bijak pernah mengatakan, ketika kita tidak bisa merubah sebuah keadaan maka cobalah rubah cara pandang atau paradigma kita terhadap hal tersebut, dengan merubah cara pandang kita maka otomatis pemahaman dan perlakuan kita akan berbeda. Kita mulai dari yang melakukan proses pendidikan tersebut yakni guru. Salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan kita dalah guru, kualitas guru tentu saja sangat mempengaruhi kulitas peserta didiknya. Pertanyaannya bagaimana realitas guru dinegara kita? Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, guru haruslah professional kreatif dan menyenangkan, sosok guru adalah orang tua bagi muridnya, teman dan fasilitator yang siap untuk melayani murid sesuai dengan minat dan bakatnya. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utamanya. Dalam hal ini bukan hanya proses mentransfer lmu yang dilakukan oleh seorang guru melainkan menanamkan sikap dan nilai pada diri anak didik yang sedang belajar. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan have a good teacher , will have good nation. Guru memiliki kedudukan yang sangat mulia dari merekalah tercipta generasi emas dengan peradaban yang sangat gemilang. Maka dari itu terlalu rendah jika profesi seorang guru hanya di nilai dengan materi, karna pekerjaan guru adalah pekerjaan intelektual yang tidak bisa dinilai dengan materi apapun. Ironisnya begitu banyak guru dinegara kita yang beorientasi pragmatisme, menjadi guru hanya untuk memenuhi kebutuhan materinya semata namun tidak memahami fungsi guru sebagai pilar utama pendidikan dan pencetak generasi gemilang.
Menurut salah seorang cendekiawan muslim Adian Husaini, banyak guru dan para orangtua yang terjangkiti penyakit sekolahisme, sekolahisme adalah paham yang menganggap proses pendidikan atau pembelajaran hanya berlangsung disekolah saja. Guru yang terjangkiti penyakit sekolahisme akan berhenti belajar karna mereka sudah menjadi seorang guru, mereka menyampaikan ilmu yang berulang – ulang kepada peserta didiknya karna mereka mengganggap yang wajib belajar adalah peserta didik. Guru hanya melakukan transfer pengetahuan namun tidak melakukan transfer nilai padahal tujuan utama dari proses belajar adalah membentuk sikap dan karakter peserta didik itu sendiri. Orangtua yang terjangkiti penyakit sekolahisme akan menyerahkan proses pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tempat anaknya belajar, mereka juga tidak lagi mau belajar karna mereka sudah membayar sekolah untuk medidik anaknya dalam segala aspek, padahal orangtua memiliki andil yang cukup penting dalam proses pendidikan anaknya, bahwa sekolah tidak serta merta menjadikan anak mereka cerdas dan berakhlak tanpa bantuan dari orangtuanya dirumah.
Berbagai hal diatas menjadikan polemik pendidikan dinegara kita menjadi semakin kompleks , karna berbagai komponen penting didalamnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, belum lagi lingkungan yang sudah tak lagi kondusif, gempuran teknologi yang tidak ditanggapi dengan cerdas menjadikan pendidikan di Negara kita semakin carut marut, godaan teknologi yang sangat menggiurkan menjadikan generasi kita semakin apatis bahkan cenderung skeptis, guru dan orang tua yang pragmatis serta sistem pendidikan yang tidak konsisten. Kita membutuhkan komitmen dan konsistensi guru dan orang tua harus menumbuhkan kesadaran kepada peserta didik kita bahwa merekalah generasi pelanjut yang akan menentukan masa depan bangsa, guru harus selalu memotivasi dirinya untuk terus belajar karan mereka adalah pilar penentu proses pendidikan, bahwa selain pengetahuan mereka juga harus mengajarkan moral dan sikap dengan cara mencontohkan kepada peserta didiknya. Begitupun dengan orang tua, merekalah yang memilki kewajiban utama untuk mendidik anak – anaknya sekolah hanyalah tempat persinggahan untu mereka berproses menjadi manusia utuh, namun yang menentukan adalah peran mereka sebagai orang tua. sistem pendidikan kita seharusnya lebih aplikabel dan menjadikan proses pendidikan menjadi semakin mudah.

Penulis : Nirwana S.Pd, M.Pd
Pekerjaan : guru pondok pesantren ummul mukminin
Dosen bahasa inggris STKIP MUHAMMADIYAH ENREKANG

Jabatan dimuhammadiyah : KABID RISTEK DPD IMM SULSEL PERIODE 2013-2015
: ANGGOTA MAJELIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (MPM) PIMPINAN WILAYAH MUHAMMADIYAH SULSEL

Iklan