tangguh

Wajah perempuan kekinian mensyaratkan perempuan menyiapkan diri sebagai subyek perubahan. Bahkan sudah bukan lagi mengedepankan kelemahan, keadaan, dan kenyataan yang diterima dengan tidak bertindak, tapi sudah harus terus bergerak, bahkan lari kedepan untuk mengeksplore diri serta berdakwah dalam tindakan nyata. Banyaknya diskursus perempuan bukan karna perempuan adalah objek yang menarik, melainkan pada realitasnya perempuan pada isu – isu tertentu masih banyak menjadi victim baik karna kebijakan yang bias ataupun karna konstruksi budaya dan alasan lainnya. Peranan IMM-wati dalam hal ini sangat diperlukan mengingat IMM-wati sebagai bagian dari masyarakat intelektual muda (baca:mahasiswa) yang memiliki ide, gagasan segar dan inovatif dengan paradigma yang progressive, untuk menjadi pelaku aktif dalam pembangunan dan kontrol sosial..
Setengah Abad IMM, tentu saja kiprah perempuan IMM terhadap pembentukan moralitas bangsa tidak lagi diragukan, Keseriusan IMM-wati dalam upaya merespon berbagai realitas sosial-keummatan sekaligus mengembangkan bentuk artikulasi yang dianggap sangat relevan dengan kondisi bangsa dan negara terkonsentrasi pada wadah pembinaan dan pendidikan IMM-wati yang kritis, cerdas, kreatif dan inovatif seperti diksuswati tingkat madya yang sedang dilakasnakan oleh IMM Makassar saat ini.
Namun kita bisa melihat dan merasakan dengan jelas bahwa Peradaban manusia serta perubahan zaman begitu kompleks seiring dengan perputaran waktu yang berkonsekwensi pada gerak suatu bangsa yang terjadi sangat cepat sebagai akses dari globalisasi, dan terma-terma perubahan lainnya menyebabkan banyak fenomena sosial. Fenomena diatas menyeret IMM-wati untuk senantiasa merefleksi dan merestrospeksikan gerakannya seiring dengan dialektika perubahan yang semakin dinamis. Landasan gerakan immawati tentu saja, sesuai dengan landasan tri dimensi gerakan, yaitu ; Spritualitas (ideologi, sebagai landasan dan nilai-nilai yang dikandungnya adalah Islam untuk kemanusiaan universal untuk mengkonstruksi potret muslimah yang tetap berpegang teguh pada etika dan moralitas Islam), Intelektualitas (intelektual, sebagai landasan pemikiran melalui kekayaan dispilin ilmu yang berbeda-beda agar dapat bermanfaat bagi progressifitas ikatan) dan Humanitas (sebagai landasan kepekaan terhadap fenomena ummat dan bangsa agar senantiasa memberikan kontribusi kebijakan dalam perencanaan pembangunan dan atau terjun langsung dalam tatanan gerakan praksis akar rumput untuk peradaban).
Selain refleksi gerakan yang tidak kalah penting untuk IMMawati adalah rekosntruksi mental dan kepribadian. Hal pertama yang harus direkonstruksi adalah afiliasi atau komitmen terhadap Islam dalam segala hal dan kondisi sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas dan karakternya. Komitmen secara aqidah, yang menetapkan tujuan dan orientasi kehidupan. Komitmen secara ibadah, yang menentukan pola dan jalan kehidupan. Komitmen secara akhlak, yang menentukan pola sikap dan perilaku dalam seluruh aspek kehidupan, karna komitmen inilah yang menjadikan immawati tetap tegak berdiri ditengah absurditas globalisasi yang kian mencengkram. Tahap selanjutnya adalah memaksimalkan partisipasi. Pada tahap inilah seorang IMMawati diharuskan untuk melebur dan bersinergi dengan masyarakat untuk mendistribusikan keshalihannya. Partisipasi yang dimaksud adalah komitmen untuk mendukung semua proyek kebajikan dan melawan semua proyek kemunkaran. Komitmen untuk selalu menjadi faktor pemberi atau pembawa manfaat dalam masyarakat. Dan komitmen untuk selalu menjadi faktor perekat masyarakat dan pencegah disintegrasi sosial.Tahap rekonstruksi terakhir adalah kontribusi, di mana seorang IMMawati telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya (keluarga, masyarakat, dan perusahaan/ kantor) dan berusaha meningkatkan efisiensi dan efektifitas hidupnya. Hal yang dilakukan dalam tahap kontribusi ini menurut Matta (2011: 11) adalah dengan cara menajamkan posisi dan perannya, sesuatu yang kemudian menjadi spesialisasinya, agar ia lebih tepat dan sesuai dengan kompetensinya. Dengan cara itulah seorang IMMawati dapat memberikan kontribusi sebesar-besarnya, dan menyiapkan sebuah ”amal unggulan” atau karya terbesar dalam hidupnya.
Dalam praksis gerakannya, IMMwati sebagai salah satu bagian dari bangunan gerakan keperempuanan diharapkan mampu menjadi perwajahan perempuan kekinian lebih baik untuk Indonesia maupun dunia kedepannya. Dengan adanya penanaman dan peneguhan nilai-nilai kemanusiaan yang menghumanisasi perempuan yang didasarkan atas nilai transcendental atau keimanan kepada Allah Swt akan mewujudkan immawati yang berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. Dan inilah yang mejadi modal utama bagi seorang Immawati untuk menjadi immawati berkeadaban serta salah satu pilar lokomotif bagi perubahan dan transformasi social.

Iklan