index
Menjadi cantik adalah dambaan setiap perempuan, baik secara sadar maupun tidak sadar banyak perempuan berusaha mencari pengakuan untuk itu. Untuk mendapatkan pengakuan “cantik” ini banyak wanita yang kemudian menyiksa diri. Contohnya, seperti wanita pada zaman Dinasty Ming yang harus rela dipatahkan jari-jari kakinya demi mendapatkan kaki berukuran kecil. Beda lagi dengan penduduk Mongolia dan Tibet yang menganggap wanita cantik adalah yang berleher jenjang. Semakin panjang leher semakin cantiklah dia. Oleh karena itu, wanita di sana rela mengisi lehernya dengan banyak kalung timah yang mengikat erat di leher mereka sejak kecil. Semakin bertambah usia, jumlah kalung di leher mereka pun semakin bertambah sehingga membuat leher seolah tertarik ke atas.
Dalam konteks kekinian, ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi perempuan dulu, bahwa mereka rela melakukan apa saja bahkan menyiksa dirinya untuk mendapatkan prestise kecantikan. Ironisnya lagi untuk tampil cantik – tepatnya untuk dikatakan cantik – sebagian perempuan mau melakukan tindakan hina dengan membuka auratnya. Seperti yang kita telah ketahui bahwa indonesia akan menjadi tuan rumah sebuah ajang kecantikan internasional yakni Miss World dengan slogan “show indonesia’s beauty to the world” namun pada hakikatnya menjadikan indonesia yang mayoritas islam menjadi panggung pertunjukan aurat perempuan sejagat raya.
Kontes kecantikan ini berawal dari festival lomba yang bernama Festival Bikini Contest, kemudian berganti nama menjadi Miss World. pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Dan ironisnya panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan hewan. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut tersebut diuji-coba untuk manusia. namun beberapa tahun kemudian muncul konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian). Konsep 3B ini sebenarnya hanya untuk memoles kontes kecantikan agar diterima banyak kalangan
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Daoed Joesoef, dalam memoarnya, Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran (2006) tercatat sebagai seorang pengkritik keras berbagai praktik ”kontes kecantikan”.
Ia menulis: ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara.”

RITUALISME MENELANJANGI KAUM PEREMPUAN
Atas nama Hak asasi manusia Eksploitasi terhadap perempuan mengalir deras tak terbendung, dipelopori oleh kaum kapitalis yang mengedepankan prinsip ekonomi semata, walau harus mengeksploitasi komunitas perempuan sebagai jembatan meraih keberuntungan. Ajang Miss World yang dikemas dikemas dengan jargon-jargon sosial bahkan pendidikan. Seolah-olah, kontes kecantikan perempuan adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Praktik kontes perempuan lebih merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan atau menuut penulis adalah sebuah ritual untuk menelanjangi perempuan indonesia . Pakaian yang ala kadarnya – biasanya berupa bikini dan sejenisnya – disyaratkan untuk dikenakan pada sesi tertentu agar tubuh kontestan dapat dilihat dan diukur dengan jelas. Tentu saja orang bisa melihat pada sisi yang berbeda. Tergantung pada cara pandangnya terhadap realitas (worldview). Seorang yang berpaham materialisme dan sekulerisme tidak mempersoalkan masalah moral terhadap kontes semacam ini. Haram-halal, berdosa atau berpahala, ibadah atau maksiat, bukanlah hal penting bagi kaum materialis. Bagi mereka yang terpenting adalah kelimpahan materi, ketenaran, dan puja-pujian terhadap kecantikannya. Menurut Daoed Joesoef, wanita yang terjebak ke dalam kontes ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. ”Pendek kata kalau di zaman dahulu para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan perempuan di forum internasional.”
Menyimak kekeliruan dan ketidakberadaban kontes-kontes kecantikan, kita berharap tidak ada orang Muslim yang ikut-ikutan mendukung berbagai jenis kontes kecantikan, semisal kontes Miss World, karna dengan turut mendukung berarti kita turut mengobrak –abrik perpustakaan peradaban yang akan mencetak generasi pemimpin pembela agama, bangsa dan negara .Jadi kontes Miss World bukanlah hanya soal baju, tapi soal penetapan dan pemberian penghargaan martabat perempuan yang keliru. Kecantikan bagi seorang perempuan adalah karunia dan sekaligus ujian Allah bagi si perempuan. Harusnya, kecantikannya digunakan untuk beribadah dan dakwah. Ironisnya, biasa kita saksikan, perempuan-perempuan yang terjebak oleh bujuk rayu setan agar mengeksploitasi kecantikan dan kemolekan tubuhnya untuk menggoncang-goncang syahwat lawan jenisnya. Dan itu tentu ada imbalan yang menggiurkan, berupa kemikmatan hidup duniawi.

Perempuan – perempuan bangsa kita bukanlah domain publik yang bisa dinikmati oleh segala jenis manusia., namun perempuan kita harus dijaga dengan penjagaan yang sesuati dengan etika yang tidak mengenyampingkan nilai-nilai agama. Alam raya Indonesia yang dikenal dengan ibu pertiwi, dimana anak manusia nya membiarkan perempuan-perempuan,calon ibu masa depan dieksploitasi dan diperlakukan dengan tidak beradab, maka tegakah kita melihat Ibu pertiwi ditelanjangan lalu menangis kehilangan kehormatannya.

Ditulis dimakassar 04 september 2013-09-03
Oleh Nirwana
Mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Makassar
Ketua Bidang Media dan Komunikasi
Dewan Pimpinan Daerah IMM SULSELBAR

Iklan